Gadis Penari

4 min read

Seorang  siswi yang bernama Ila,  dia terlahir dari keluarga yang  kekurangan.  Sejak kecil dia mempunyai bakat menari. Ketika dia kelas X MA Al Hkmah ia ingin melanjutkan kuliah, di universitas Islam Antasari Banjarmasin. Dia ingin kulaih disana karena ada saudaranya tinggal disana. Namun kondisi saat itu keluarganya sedang tidak memiliki rezeki sama sekali. Tapi ayahnya berusaha agar kelak Ila dapat kuliah di universitas tersebut.

Hari pun berlalu……ke esokan harinya Ila ingin menemui budhe nya .

“Bude…. Bude…. Ngapunten nggeh bade tanglet, saget nopo mboten ndampingi  kulo belajar.” Ucap fidya terhadap bude nya.

“Nggeh … Mboten nopo -nopo sayang” ucap budhe Ila.

“Matur sembah nuwun nggeh Bude, saget rencangi “Ila. Ila pun sangat gembira.

Budhenya bersedia untuk membantu belajar Ila. Betapa senengnya Ila dikala itu, dia sangat bersemangat  dan sangat senang, betapa senangnya budhe Ila.  terhadap gadis penari yang lugu itu. Budhe Ila tidak pernah berhenti menyemangati dan membimbing Ila. agar dia menjadi penari internasional. Ila mempunyai motivasi dari seseorang pepatah Jepang mengatakan…

“Shippai wa ichiji no zasetsu ni suginai. Seikō e no kaidan ni hitsuyōna keiken de aru.”

Yang artinya:Kegagalan hanya merupakan kegagalan sementara. Itu adalah pengalaman yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.

“Wahh …. keren kamu Ila“ucap Ibu guru terhadap nya karena dia bisa mengerjakan soal semester tanpa menyontek ke temannya. Setelah pengambilan rapot, dalam satu tahun  dia berhasil mendapatkan peringkat ke-1 dari 28 siswa-siswi. Betapa senang dan gembira Ila mendapatkan peringkat satu.“Maturnuwun nggh bu guru,“ Ucap Ila berterimakasih kepada ibu guru dan bergegas keluar menunjukkan rapot dan hadiah, yang ia dapatkan dari juara kelas tersebut.

“Matur suwon Gusti, berkat  doa dan semangatku belajar, aku bisa mendapatkan peringkat di sekolah.”ucap Ila dalam hati.

Dengan senang dan gembira teman-temannya menyambut,.

“Selamat ya Ila“ucap teman-temanya.

“Enggeh…. Terimakasih ya….“

Ila pun pulang dengan sangat gembira ia menunjukkan hadiah dan rapot tersebut kepada bapak, ibu dan budhenya. Ila pun memeluk mereka secara bergantian.

“Bapak, ibuk… Kulo angsal peringkat setunggal buu, pakk”.ucap Ila dengan tangisan haru,dan tetesan air mata bahagia, mereka pun sangat bahagia.

“Alhamdulillah nak berkat kegigihan sampean, saiki saget peringkat nduk”. ucap Ibu Ila dengan menangis. Begitupun dengan keluarga besarnya juga mengucapkan selamat kepada Ila.

Tiga tahun telah berlalu, Ila keluar dari MA dan masuk ke Universitas Islam Antasari Banjarmasin dengan jalur Prestasi dan dengan doa orangtuanya serta kegigihan dan semangatnya, akhirnya Allah mengabulkan keinginannya.

“Ya allah….. Menawi, Gusti mpun nyiapaken jalan seng bagus ndamel kulo”.dalam renungan nya, dia senantiasa mengambil hikmah dari setiap yang ia kerjakan. Setelah ia duduk di universitas Islam Antasari ,ia di tunjuk untuk menjadi ketua tari di kampusnya. “matur suwon gusti, njenengan sampun ngasih kepercayaan dateng kulo, mugi-mugi kulo senantiasa saget dados tiyang engkang amanah”. Ila mengucapkan syukur kepada Allah yang telah mengasih kepercayaan kepadanya.

Di kampusnya ia, selalu mendapatkan juara, lomba pidato islam, Olimpiade dan tari Topeng. Selain terkenal ke pintaran nya ia juga terkenal dengan gadis yang cantik juga sholehah di kampusnya. Karena keluarganya selalu mengajarkannya untuk senantiasa beribadah. Selain itu juga ia selalu mengingat pesan almarhum kakeknya  “

“Jangan pernah tinggal kan sholat meskipun kita seorang pendosa, dan bukan ahli surga”.

Pada suatu hari diumumkan bahwa akan ada lomba tari. Perlombaan tersebut adalah ajang lomba tari antar kampus se-Banjarmasin. Ila dan teman-temannya senantiasa latihan, agar penampilannya optimal ketika lomba. Dalam setiap sujutnya ia senantiasa berdoa agar dimudahkan segala urusannya. Selain itu ia berharap agar Allah mudahkan dan lancarklan saat mengikuti perlombaan tari.

Siang dan malam tak kenal waktu di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, serta kesibukaannya untuk latihan tari, Ila selalu menyempatkan waktu untuk sholat, mengaji, dan berdoa.

Waktu lomba pun tiba, Ila dan teman-temannya menari dengan sangat lincah dan kompak. Setelah lomba usai, pengumuman lomba diumumkan. Ila dan dan teman-temannya berhasil mendapatkan juara pertama dan Ila mendapatkan gelar penari terkompak dan terlincah .

Ila dan teman-temanya ingin merayakan keberhasilan nya atas kemenangan lomba tersebut, mereka tidak menyangka karena bisa menang, karena musuh dari perlombaan itu sudah mencapai internasional dan fidya bisa menyalip, peserta tersebut.

“Alhamdulillah, aku bisa mendapatkan juara ,berkat teman-teman aku dan kalian bisa mendapatkan juara pertama , akhirnya aku juga bisa mewakili tingkat internasional di negara Italia”

Amanat dari cerita tersebut bahwa, Pahalawan itu tidak hanya pahlawan yang mati di peperangan membela negara namun, pahlawan yang sebenarnya ialah guru yang berjasa dan orang tua yang senantiasa menjunjung tinggi anak agar mau belajar dan bersekolah hingga dia menjadi sosok yang sukses selain itu doa orang tua lah yang sangat mustajab di antara doa-doa lainnya, maka pepatah mengatakan belajar lah setinggi langit agar nanti kamu bisa menggapai cita-cita setinggi bintang di langit.

Penulis : Adibatul Karimah

Kelas : XII IPS

More Stories

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *